Indonesian Gas Society Kupas Pro dan Kontra Penurunan Harga Gas

 

| Minggu, 17/05/2020

JAKARTA – Kebijakan pemerintah terkait harga gas memicu reaksi pro dan kontra para pihak pada rantai bisnis gas dan LNG di Indonesia.

Pemerintah telah berulangkali merevisi kebijakan harga gas melalui Peraturan Menteri Energi Sumber Daya Mineral (Permen ESDM). Salah satu kebijakan terbaru, yaitu Permen ESDM Nomor 8 Tahun 2020 tentang Cara Penetapan Pengguna dan Harga Gas Bumi Tertentu di Bidang Industri, menetapkan harga gas dan LNG di titik serah pengguna gas bumi (plant gate pembeli) sebesar 6 USD/MMBTU.
Sektor industri yang mendapat penurunan harga gas tetap sesuai Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 40 Tahun 2016 yaitu pupuk, baja, keramik, petrokimia dan sarung tangan karet serta kelistrikan.

“Selain keuntungan secara nilai rupiah dari penurunan harga gas, diharapkan melalui penurunan harga gas akan menciptakan multiplier effect dari sisi tenaga kerja dan juga peningkatan kemampuan perusahaan untuk melakukan ekspansi dan pertumbuhan industri,” kata Arief S Handoko, Deputi Keuangan dan Monetisasi SKK Migas, Sabtu (16/5).

Reaksi berbeda disampaikan oleh pihak upstream dan midstream dalam ekosistem bisnis gas dan LNG dalam menyikapi kebijakan yang menurut mereka lebih berpihak pada sektor hilir migas. Selain itu, fakta bahwa kondisi pasar gas internasional, khususnya pasar LNG di Asia Pasifik, turun seiring penurunan harga minyak menjadi US$ 20 per barel dan pasar LNG yang juga masih sangat lemah. Hal itu mengakibatkan harga LNG menjadi kurang dari US$ 3/MMBTU yang justru jauh di bawah US$ 6/MMBTU seperti yang diamanatkan pemerintah.

“Penyesuaian harga gas yang dilakukan dengan mekanisme under/over lifting dan dihitung setiap kwartal berpotensi kontraktor mengalami kesulitan cash flow dan penurunan nilai keekonomian,” ujar Jamsaton Nababan, Presiden Direktur PT Pertamina EP Cepu.

Para pakar di bidang gas dan LNG Indonesia mengupas permasalahan ini melalui forum Webinar Series yang diselenggarakan kedua kalinya oleh Indonesian Gas Society (IGS), Sabtu (16/5).

Didik Sasongko Widi, Chairman IGS, mengatakan bahwa “Forum IGS Webinar Series yang sudah diselenggarakan untuk kedua kalinya ini bertujuan untuk mengajak para praktisi bisnis gas dan LNG di Indonesia berdiskusi mengenai tren dan perkembangan industri serta merekomendasikan jalan tengah bagi berbagai permasalahan yang dihadapi, dimana kali ini yang menjadi topik pembahasan adalah seputar kebijakan harga gas terbaru yang ditetapkan
oleh pemerintah.

Forum IGS Webinar Series ke-2 diikuti oleh ratusan praktisi bisnis gas dan LNG Indonesia, dimoderatori oleh Salis Aprilian, Vice Chairman IGS dan menghadirkan jajaran narasumber, yaitu Arief S Handoko, Deputi Keuangan dan Monetisasi SKK Migas, Wiko Migantoro, Chairman of Infrastructures Committee IGS, President Director of PT Pertagas, Jamsaton Nababan, President Director PT Pertamina EP Cepu, Satriyo Nugroho, Direktur Teknik dan Pengembangan, PT Pupuk Kaltim dan Achmad Widjaja, Wakomtap industri hulu & petrokimia Kadin Indonesia.

“Kami berharap hasil dari diskusi forum IGS Webinar Series dapat menjadi acuan yang valid baik bagi pemerintah selaku pihak yang menetapkan kebijakan serta pengusaha selaku pihak yang akan mengimplentasikan kebijakan tersebut,” tandas Didik.(RA)

 

Sumber: https://www.dunia-energi.com/indonesian-gas-society-kupas-pro-dan-kontra-penurunan-harga-gas/

IGS Webinar Series – 2 : “Pengaruh Kebijakan Harga Gas terhadap Daya Saing Industri Indonesia”

 

Pemerintah beberapa kali telah merevisi kebijakan harga gas melalui Peraturan Menteri ESDM.

Berbagai faktor yang menjadi pertimbangan Pemerintah dalam menetapkan kebijakan harga gas tidak jarang memunculkan pro dan kontra para pihak pada rantai bisnis gas dan LNG di Indonesia.

Kebijakan tentang harga gas dan LNG yang dikeluarkan Pemerintah baru-baru ini dinilai lebih berpihak pada sektor hilir migas, yaitu dengan menetapkan harga gas di plant gate pembeli sebesar 6 USD/MMBTU. Hal ini tertuang dalam Peraturan Menteri ESDM No 8 Tahun 2020 tentang Cara Penetapan Pengguna dan Harga Gas Bumi Tertentu di Bidang Industri.

Sektor industri yang mendapat penurunan harga gas tetap sesuai Perpres 40/2016 yaitu pupuk, petrochemical , baja, keramik, petrokimia dan sarung tangan karet serta akan ditambahkan PLN.

Seyogyanya pemberian penurunan harga gas ini dapat meningkatkan daya saing industri yang mendapatkan insentif tersebut, yang pada akhirnya memberikan multiplier effect bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

 

Namun demikian, terdapat reaksi berbeda dari pihak upstream dan midstream dalam ekosistem bisnis gas dan LNG yang menarik untuk didiskusikan.

Selain itu, tentunya menarik juga disimak bahwa kondisi pasar gas internasional, khususnya pasar LNG di Asia Pasifik, di mana harga minyak turun menjadi “hanya” sekitar US$20/Bbl dan kondisi pasar LNG sendiri juga masih sangat lemah, maka harga LNG menjadi kurang dari US$3/MMBTU. Artinya harga LNG sendiri, justru masih jauh di bawah US$6/MMBTU seperti yang diamanatkan oleh Perpres dan Kepmen di atas.

Apa saja pendapat para pakar sebagai nara sumber dalam sesi ini terkait kebijakan harga gas, dan bagaimana melihat persoalan ini lebih jernih, terutama pada saat kondisi ekonomi dan kebutuhan energi yang berubah seperti sekarang ini, dan pasca COVID19? Solusi apa yang sebaiknya ditempuh Pemerintah dan para pengusaha?

Ikuti terus diskusi yang menarik melalui IGS Webinar Series yang akan membahas topik-topik sekitar Bisnis Gas dan LNG Indonesia Pasca COVID19.

 

Informasi Kontak:
– WA di 0812 9640 8181
– Email: secretariat@indonesiangassociety.com

 

Webinar Series

 

 

IGS Webinar Series
“Kondisi Bisnis Gas dan LNG Pasca COVID-19”

Bisnis gas dan LNG merupakan bisnis yang ikut terdampak akibat pandemik COVID19 dan rendahnya harga minyak dunia.

Berkurangnya konsumsi energi yang sangat signifikan karena dibatasinya pergerakan kegiatan manusia ( lock-down ) di seluruh dunia yg drastis dan serempak, bukan saja berdampak negatif pada kondisi ekonomi, tetapi juga pada kegiatan sosial dan budaya.

Sejak ditemukan dan dikembangkannya shale gas di Amerika Serikat dan tumbuhnya kilang-kilang LNG baru di berbagai negara Afrika, Australia, dan Amerika, menyebabkan keseimbangan supply-demand gas dan LNG dunia telah jauh berbeda dari sebelumnya.

Di Indonesia,Gas dan LNG merupakan penyumbang sekitar 24% sektor energi kita. Oleh karenanya, hal ini memerlukan perhatian dalam memetakan dan menyusun strategi pengelolaanya, baik pada kondisi sekarang ini, terlebih lagi pada masa pasca COVID19, di saat semua tatanan ekonomi, sosial dan budaya masyarakat juga berubah.

Apa sajakah yang perlu disiapkan dan bagaimana strategi kita dalam mengelola bisnis Gas dan LNG Indonesia?

Ikuti IGS Webinar Series yang akan membahas topik-topik menarik sekitar Bisnis Gas dan LNG Indonesia Pasca COVID19.

 

 

Sabtu, 9 Mei 2020
15.30-17.00 WIB

 

Series – 1 :
“Dampak COVID-19 dan Harga Minyak Rendah Terhadap Bisnis Gas dan LNG Indonesia, Apa Strategi Kita?”

Pembicara:
1. Didik Sasongko Widi, Chairman of IGS, President Director & CEO PT Badak LNG

2. Syahrial Muchtar, Direktur Strategi & Pengembangan Bisnis, PT PGN Tbk.

3. Daniel S. Purba, Advisor IGS, Senior Vice President Corporate Strategic Growth PT Pertamina (Persero).

4. John Anis, General Manager PT Pertamina Hulu Mahakam

Moderator:
Salis S. Aprilian, Vice-Chairman of IGS, Founder & CEO Digital Energy Asia.

 

Pendaftaran:
WA ke IGS Secretariat 0812 9640 8181
Email : secretariat@indonesiangassociety.com

Negative Crude, Price Wars and Fallen Trading Houses: Lessons from the Oil Markets

We’ve seen an oil price war between two of the world’s biggest producers, WTI prices turning negative and a storied oil trading house in Singapore collapse. What lessons can we take from oil markets in the last 2 months? Dr Fereidun Fesharaki, Chairman of FGE, joined us on MoneyFM to discuss why Brent Crude matters more, why impulse more than strategy was behind the March price war, lessons to be learned from Hin Leong’s troubles, and why the story for oil will still hinge on demand.

Oil market balance could begin to turn in July or August, FGE’s Fereidun Fesharaki Says

Video:  https://www.bloomberg.com/news/videos/2020-04-21/oil-market-balance-could-begin-to-turn-in-july-or-august-fge-s-fereidun-fesharaki-says-video

Harga Gas Anjlok, Produksi LNG Kilang Bontang akan Dikurangi

Rio Indrawan | Jumat, 17/04/2020

JAKARTA – Sisa kargo Liquefied Natural Gas (LNG) yang tidak terserap pada tahun ini mencapai 12 kargo yang berasal dari dua kilang LNG utama di Indonesia, yakni kilang Bontang di Kalimantan Timur dan Tangguh di Papua.

Arief Setiawan Handoko, Deputi Keuangan dan Monetisasi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), mengatakan kelebihan kargo LNG dari Kilang Bontang atau uncommitted sebanyak tujuh kargo. Sebagaian dari LNG tersebut sudah ditender atau dijual ke pasar spot.

Hanya saja penjualan melalui tender pada tahun ini tidak bisa terlalu diharapkan lantaran anjloknya harga gas, terutama LNG di pasar internasional. Untuk itu SKK Migas sedang melakukan kalkulasi untuk mempertimbangkan untuk tidak lagi memproduksi LNG dari Bontang.

“Uncommitted kargo Bontang ada tujuh kargo, tiga di antaranya sudah tender untuk dijual. Tapi karena tahun ini LNG sangat rendah harganya dibawah US$3, kami lagi review apakah lanjut. Istilahnya kami enggak produksi,” kata Arief dalam video conference, Kamis (17/4).

Sebanyak empat uncommitted kargo LNG lainnya tidak jadi diproduksikan karena adanya kegiatan perawatan atau maintenance di Kilang Bontang.

Sementara uncommitted kargo dari Kilang LNG Tangguh tahun ini sebanyak lima kargo. Sebagian di antaranya batal diserap  pembeli gas.

Menurut Arief, pembeli LNG tersebut mendeklarasikan force majeure sehingga tidak jadi menyerap sebanyak dua kargo LNG.

“Tiga kargo karena maintenance diundur, dua karena memang ada drop dari salah satu buyer (pembeli gas) karena declare force majeur,” ujar Arief.

Sepanjang kuartal I 2020  total penjualan LNG dari Bontang dan Tangguh sebanyak 54 kargo. Rinciannya sebanyak dari kilang Bontang sebanyak 24 kargo LNG dijual dan sebanyak 30 kargo LNG dijual dari hasil produksi kilang LNG Tangguh.

SKK Migas kata Arief masih menaruh harapan kondisi pasar LNG di dunia akan membaik pada semester kedua tahun ini sehingga target penjualan LNG bisa tercapai. Ini tentu akan berpengaruh terhadap target lifting gas.

“Kami harapkan akhir tahun 85 kargo (Bontang) dan 122 kargo (Tangguh). Mudah-mudahan dengan kondisi ini tercapai kalaupun meleset hanya sedikit,” kata Arief.(RI)

 

Sumber: https://www.dunia-energi.com/harga-gas-anjlok-produksi-lng-kilang-akan-dihentikan/