Summary Report IndoPACIFIC LNG Summit 2020

IndoPACIFIC LNG Summit 2020, 3-4 March 2020, Bali

  • Gas demand will continue to grow largely in Asian economies and in particular in South Asia and Southeast Asia, including Indonesia, will increasingly dominate the market. With the current over supply in LNG market, the industry must collaborate to bring balance back to the supply and demand of LNG.
  • The industry needs to acknowledge that different buyers have different needs. As an industry, we need to understand what those individual needs are, and be flexible in offering solutions.
  • Suppliers must evolve new business models and accommodate buyers’ requirements to make the business sustainable.
  • To survive in a commodity LNG world, suppliers will have to stay abreast of new technology and commercial innovation in the digital revolution, including down-scaling to small scale LNG options.
  • Creating demand. There are a lot of potential new market to be developed in emerging Asian market such as LNG bunkering and small scale, which of course need development of gas infrastructures and conducive government policy.
  • Indonesian Gas Society (IGS) is honored to host the 2nd IndoPACIFIC LNG Summit to serve as a timely forum for the LNG industry in Indopacific region. As one of the main “engines of growth’ for LNG demand, the Indopacific region has a big stake in how the industry addresses the opportunities as well as challenges and dynamics of LNG market.

 

Read more:

Download Summary Report 

Indonesia Siap Menjadi Pemasok LNG Global

Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto, saat menjadi pembicara kunci dalam Indopacific LNG Summit Bali 2020.

 

INDONESIA sempat memiliki peran di pasar gas alam cair (LNG) global, sehingga menjadi salah satu eksportir LNG terbesar. Namun, seiring penurunan produksi gas dan kebijakan pemerintah untuk memprioritaskan pasokan gas di dalam negeri, kontribusi Indonesia di pasar LNG dunia mengalami penurunan.

Berdasarkan rencana umum energi nasional (RUEN), produksi gas di Indonesia diproyeksikan terus menurun akibat decline rate alami, yakni 20% per tahun. Sepanjang 2015-2019, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mampu mempertahankan produksi migas di atas target RUEN. Dalam hal ini, melalui optimalization work program untuk mencapai operational excellence.

 

Di antaranya, Filling The Gap (FTG), Production Enchancement Technology (PET), Management Work Through (MWT), hingga Optimisasi Planned Shutdown. Alhasil, produksi gas dapat dipertahankan pada level tinggi sepanjang 2019, yakni 7.254 MMSCFD dan lifting sebesar 5.923 MMSCFD.

 

Giant discovery gas di Blok Sakakemang pada 2019, serta penyelesaian revisi POD pengembangan Blok Masela, semakin menambah optimisme terhadap masa depan industri hulu migas di Indonesia. Dalam visi bersama hulu migas 2030 dengan target 1 juta BOPD, produksi gas diperkirakan mencapai 12.300 MMSCFD. Dengan begitu, kekhawatiran akan defisit gas pada masa menatang dapat ditepis.

“Selesainya proyek kilang Masela dan proyek utama hulu migas, serta penemuan lapangan migas baru lain, akan menjadikan Indonesia kembali menjadi salah satu produsen gas utama dunia. Hal ini mendukung peningkatan daya saing indsutri dalam negeri, dengan ketersediaan pasokan gas. Serta menjadikan Indonesia berpeluang kembali menjadi pemasok utama LNG dunia,” papar Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto, saat menjadi pembicara kunci dalam Indopacific LNG Summit Bali 2020, Selasa (3/3).

 

Saat ini, lanjut dia, SKK Migas memiliki empat strategi untuk meningkatkan produksi migas nasional. Rinciannya, mempertahankan tingkat produksi existing yang tinggi, transformasi sumber daya ke produksi, mempercepat chemical EOR dan eksplorasi untuk penemuan besar. SKK Migas mengidentifikasi 12 area yang berpotensi memiliki kandungan migas dalam jumlah besar. Itu tersebar di enam area di Indonesia bagian barat, empat area di Indonesia bagian timur dan dua area di laut dalam.

Dari total produksi gas pada 2019 sebesar 6.140 BBTU, penyaluran dalam bentuk LNG secara keseluruhan mencapai 2.025 BBTU. Adapun alokasi LNG untuk pasar domestik sebesar 508 BBTU dan untuk ekspor sebesar 1.417 BBTU.

Saat ini, kapasitas kilang LNG di Indonesia sebesar 16 MTPA, yang berasal dari LNG Tangguh sebesar 7,6 MTPA dan LNG Bontang sebesar 8,6 MTPA. Kapasitas kilang LNG akan bertambah menjadi 13,3 MTPA, jika proyek train 3 Tangguh dengan kapasitas 3,8 MTPA dan Abadi LNG (Masela Project) sebesar 9,5 MTPA selesai dibangun. Pasar ekspor utama LNG, yakni Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Thailand dan Taiwan, dipasok dari kilang LNG Badak dan LNG Tangguh.(OL-11)

 

Sumber: https://mediaindonesia.com/read/detail/294163-indonesia-siap-menjadi-pemasok-lng-global.html

Menteri ESDM Minta Pengusaha Genjot Infrastruktur Gas di RI

Foto: Menteri ESDM Arifin Tasrif (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta 29 Jan 2020, CNBC Indonesia- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif bertemu dengan sejumlah pengusaha gas di kantornya siang ini.

Pengusaha gas yang bergabung dalam Indonesia Gas Society (IGS) ini bergerak dari sektor hulu, tengah, dan hilir. Dipimpin oleh Didik Sasongko Widi, membahas soal kerja sama antara swasta dan pemerintah untuk memajukan industri gas dalam negeri.

Pertemuan juga membahas soal potensi-potensi gas Indonesia, yang nantinya akan dibedah lebih dalam di gelaran IndoPACIFIC LNG Summit awal Maret 2020.

 

Menteri Arifin sendiri juga menekankan kepada para pengusaha ini untuk membangun infrastruktur gas nasional yg terdiri dari terminal LNG dan pipa gas.

Foto: esdm dan pengusaha gas (Dok. ESDM)

Sebelumnya, Arifin Tasrif menegaskan Indonesia masih punya peluang besar mendongkrak lifting atau produksi siap jual minyak dan gas bumi (migas) dengan menggarap ladang baru serta mengembangkan Wilayah Kerja (WK) eksisting.

“Sekarang ini kita sedang mengupayakan supaya ada pengembangan sumber-sumber (migas) baru sehingga kita bisa menemukan migas. Kalau gasnya oke, kalau minyaknya butuh waktu,” kata Arifin.

Pemerintah sendiri menetapkan lifting migas pada APBN 2020 sebesar 1.946 Million of Barrels of Oil Equivalent Per Day (MBOEPD) dengan rincian 755 mbopd dari minyak dan 1.191 dari mboepd dari migas. Optimisme terhadap capaian target lifting migas terlihat dari 12 proyek migas yang diproyeksikan berjalan tahun 2020 ini.

 

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/news/20200129204850-4-133817/menteri-esdm-minta-pengusaha-genjot-infrastruktur-gas-di-ri

Indonesia Gas Society (IGS) courtesy visit ke Menteri ESDM

 

Rabu, 29 Jan 2020 – Indonesia Gas Society (IGS) melakukan courtesy visit ke Menteri ESDM Bapak Arifin Tasrif yang didampingi oleh Sekjen ESDM Bapak Ego Syahrial, Staf Ahli MESDM Bapak Prahoro dan Tenaga Ahli MESDM Bapak Nanang Untung.

Delegasi IGS yang terdiri dari perwakilan pengurus dan anggota baik dari sisi Hulu, Tengah dan Hilir yang dipimpin oleh Chairman IGS Bapak Didik Sasongko Widi.
Dalam kunjungan tersebut IGS menyampaikan visi nya untuk memfasilitasi hubungan kerjasama antara pemangku kepentingan dalam memajukan industri gas Indonesia. Menteri menyampaikan dukungan dan meminta peran aktif IGS dalam ikut mendorong penggunaan gas di Indonesia.

Chairman IGS juga menyampaikan rencana IndoPACIFIC LNG Summit dengan tema “Shaping the Future” yang akan diselenggarakan pada tgl 3-4 Maret 2020 sebagai salah satu kegiatan rutin IGS yang mengundang 36 pembicara termasuk Presiden International Gas Union dan Delegasi dari kawasan Asia Pasifik

Jokowi considers three solutions to lower industrial gas prices

 

Jakarta   /   Mon, January 6, 2020

President Joko “Jokowi” Widodo will look into three options to lower the stubbornly high industrial gas price in Indonesia, which has deterred industries from expanding in Indonesia amid a domestic economic slowdown.

The options are: introducing a fiscal incentive, creating a domestic market obligation (DMO) or undergoing an import simplification procedure to reduce gas prices for domestic industries, the President explained.

“This problem has been going on since 2016. I need a solution, and those three are the options,” he told reporters after a closed-door limited cabinet meeting on Monday in Jakarta.

Jokowi’s adminsitration is pushing industrial development forward to revive economic growth, which has slowed to its lowest rate in more than two years: 5.02 percent in the third quarter of 2019.

By “reducing or even eliminating” the government’s share of earnings from gas sales – about US$2.20 per 1 million British thermal units (mmbtu) – Jokowi expected industrial gas prices to fall as well.

The second solution being studied, he added, was for the government to impose a DMO policy for gas producers so that prices could be maintained. The government already imposes such a policy on coal miners, who have to sell a quarter of their production domestically at less than $70 per ton.

The third possible solution was to ease imports of gas. However, the President did not specify whether this would be achieved through fiscal or non-fiscal measures.

There were seven domestic industries heavily reliant on gas, Jokowi added. These were the electricity production, chemical, food, ceramic, steel, fertilizer and glass industries, which collectively consumed about 80 percent of Indonesia’s gas supply.

“I’ve asked my ministers to carefully calculate how to make gas prices more competitive. Look at the issues from the upstream, midstream to downstream sectors,” he said.

The President has also asked for an update on the implementation of Presidential Regulation No. 40/2016 on determining natural gas prices. He said he was looking out particularly for field problems with the implementation of the regulation by the seven gas-reliant industries.

 

Source: https://www.thejakartapost.com/news/2020/01/06/jokowi-considers-three-solutions-to-lower-industrial-gas-prices.html