IGU Council Meeting 2019

IGU Council Meeting

 

 

 

 

Summary Report 5th Anniversary

 

 

 

On behalf of the Indonesian Gas Society, I would like to thank you for coming and to welcome you all to our “Industrial Expertise Forum“.

We decided to present this forum as part of a series of events held to celebrate IGS 5th anniversary.

It is 5 years since the establishment of the Indonesian Gas Society in 2014 and we are growing from strength to strength.

The theme “Gas & Renewable Energy” Indonesia has pressing energy issues that needs to be addressed urgently in the future. Based on GDP growth assumption of 5.6% per year and population growth of 0.8% per year, the Indonesian energy demand is expected to grow 6.4% per year oral most 1.5 times in 2025 than what we are consuming now. In overall, Indonesia is currently exporting more than half of its energy production, mainly from gas and coal.

 

Read more download here

Tekan Laju Penurunan Alamiah Blok Mahakam, Pertamina Agresif Lakukan Pengeboran

2019-07-16 14:48:00

Pertamina melalui anak usaha PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) secara agresif melakukan pengeboran di Wilayah Kerja (WK) Mahakam, dari target tahun 2019 sebanyak 118 sumur pengembangan, kini telah terealisasi 52 sumur pada Juni 2019.

Direktur Hulu Pertamina, Dharmawan H Samsu menjelaskan sejak mengelola WK Mahakam, Pertamina menggenjot operasi untuk menahan laju penurunan alamiah produksi yang pada 2017 telah mencapai 57 persen. Angka tersebut saat ini berhasil ditekan Pertamina pada level 25 persen dan upaya terus dilakukan secara maksimal melalui pengeboran sesuai rencana.

“Kami terus melanjutkan pengeboran 118 sumur hingga akhir 2019 ini, sehingga diharapkan in-year decline rate bisa ditahan flat, sekaligus mulai mempersiapkan pengeboran sumur eksplorasi dalam di 2020,” kata Dharmawan.

Dharmawan juga mengatakan pada 2018, Pertamina berhasil memproduksi gas sekitar lima persen di atas prediksi operator sebelumnya. Bahkan, untuk 2019, Pertamina menargetkan produksi Mahakam lebih tinggi dari proposal operator sebelumnya.

Dharmawan melanjutkan “Target ini cukup menantang mengingat tingkat maturasi yang cukup tinggi dari zona produksi eksisting sehingga kontribusi produksi Mahakam saat ini datang dari kantung-kantung reservoir yang lebih kecil dengan jarak antarsumur lebih dekat’’.

Selain itu, menurut dia, value creation harus dilihat dari berbagai sisi, tidak hanya volume tapi juga efisiensi. Pada 2018, Pertamina berhasil menurunkan biaya cost recovery Blok Mahakam dari 1.271 juta dolar AS menjadi 973 juta dollar AS pada 2018, sehingga berimbas kepada laba Perusahaan.

“Pengeboran di area swamp juga lebih efisien yakni dari 11 hari menjadi hanya 6 hari, sehingga biayanya juga turun,” ujarnya. Dharmawan meyakini bahwa manajemen biaya juga menjadi salah satu kunci meningkatkan hasil, di samping dibutuhkan pula terobosan berupa eksplorasi baru.

“Pengalaman mengelola Blok Mahakam memberikan wawasan bahwa investasi pada masa transisi sangat penting,” tutupnya. Sebagai informasi, untuk menjaga tingkat kewajaran produksi yang telah memasuki periode penurunan alamiah sejak 2010 maka satu tahun sebelum alihkelola, Pertamina melakukan intervensi pendanaan untuk pengeboran di 15 sumur WK Mahakam yang diproduksikan di 2018 . Hal ini dilakukan karena berdasarkan hasil evaluasi, terjadi penurunan investasi sumur di tahun 2016 menjadi 44 sumur dan di 2017 menjadi 6 sumur.**

 

Sumber : https://www.pertamina.com/id/news-room/news-release/tekan-laju-penurunan-alamiah-blok-mahakam-pertamina-agresif-lakukan-pengeboran

Di Depan Pengusaha Gas, Jonan: Kiblat Dunia ke Energi Baru

Jakarta, CNBC Indonesia – Di hadapan para pelaku gas yang berkumpul di acara IndoGAS 2019 pagi ini, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan mengatakan perkembangan energi dunia saat ini perlahan-lahan mulai beranjak dari energi fosil ke energi baru dan terbarukan (EBT).

Ia menyebut bisnis gas saat ini sedang dalam kondisi unik, karena harus segera membuat keputusan. “Ini waktu untuk membuat pilihan dan keputusan karena pasar global mulai masuk energi baru dan terbarukan. Ini waktu yang menarik, dan banyak negara maju kita lihat banyak mendorong EBT dengan cepat saat ini,” paparnya dalam pembukaan IndoGAS, Selasa (19/2/2019).

Jonan mengatakan, hasil kunjungannya dari Italia 3 bulan lalu misalnya di mana terdapat kilang yang bisa olah CPO 100%. “Total dan Eni sudah komit untuk produksi lebih banyak BBM dari CPO,” jelasnya.

Sementara untuk kondisi industri gas saat ini, dulu dipromosikan untuk kendaraan umum gunakan CNG, dan juga kereta. Tapi melihat perkembangan dunia, bukan tidak mungkin suatu hari CPO atau EBT lain bisa dikonversi ke gas dan ini akan jadi tantangan besar industri gas.

Jonan mengatakan, produsen gas alam harus mulai berpikir bagaimana cara bertahan saat ini dan seterusnya. Menurut Jonan, salah satu caranya yakni dengan bermain di Petrokimia.

Selain itu, lanjut Jonan, di industri gas juga saat ini ada proyek Lapangan Gas Abadi Masela, lalu ada juga proyek Ultra Laut Dalam/IDD, yang diharapkan dapat difinalisasi secepat mungkin.

“Kami juga meminta kepada Pertamina untuk punya mitra di East Natuna dalam alpha reservoir-nya,” tambahnya.

“Industri yang pakai bahan bakar fosil memang tidak mudah untuk diganti, mungkin sampai generasi berikutnya. Tapi, kalau kita tetap mendorong penggunaan gas untuk listrik, transportasi, pembangkit, mungkin kompetisi bisa dihadapi pada saat itu,” pungkas Jonan.

Sumber: https://www.cnbcindonesia.com/news/20190219122757-4-56351/di-depan-pengusaha-gas-jonan-kiblat-dunia-ke-energi-baru

Ilustrasi: https://akcdn.detik.net.id/visual/2019/02/19/df5f9378-5f01-4db6-a9a3-80187f0dccc3_169.jpeg?w=715&q=90

Menteri Jonan Buka IndoGAS 2019

 

Jakarta,  Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan membuka acara Konferensi dan Pameran International Gas Indonesia (IndoGAS) 2019  di Jakarta Convention Centre, Selasa (19/2).

Hadir dalam pembukaan tersebut, antara lain Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Djoko Siswanto, Dirjen Kelistrikan Andy Sommeng, Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto, Kepala BPSDM IGN Wiratmaja  Puja serta Chairman Indonesian bGas Society (IGS) & Organizing Committee IndoGAS 2019, Didik Sasongko Widi.

Menteri ESDM dalam kesempatan tersebut mengapresiasi  penyelenggaraan forum dua tahunan IndoGAS ini, sebagai forum bertemunya para pelaku industri dengan para pemangku kebijakan, mencari solusi terbaik demi perkembangan industri gas alam di Indonesia, terutama terkait regulasi, investasi dan pembangunan infrastruktur untuk pengembangan energi Indonesia ke depan.

Selanjutnya Jonan memaparkan, bisnis gas mengalami tantangan besar karena pasar dunia mulai mengembangkan energi baru terbarukan. Oleh karena itu, saat ini merupakan waktu yang tepat untuk mengambil keputusan bisnis, mengingat negara maju banyak mendorong pengembangan energi baru terbarukan.

Dalam kunjungan ke luar negeri, Jonan memaparkan, dia menyaksikan betapa energi baru terbarukan telah berkembang pesat. Bahkan sudah ada kilang yang telah memproduksi 100% bahan bakar nabati. “Saya bicara dengan ENI dan Total, keduanya berinisiatif memproduksi  gas oil, diesel oil dari CPO atau sumber daya lainnya,” kata Jonan.

Untuk pengembangan gas di pasar domestik, papar Jonan,  pada waktu silam telah dipromosikan penggunaan CNG untuk transportasi umum dan lokomotif. Namun bukan tidak mungkin di masa depan bahan bakar nabati dapat dikonversi menjadi gas dan hal ini menjadi tantangan yang harus dihadapi.

Menteri Jonan  juga menyarankan pelaku bisnis agar  lebih kompetitif.  Produsen gas harus secara serius mencari cara agar bisa bertahan di masa depan, terutama menghadapi berkembangnya energi baru terbarukan. Salah satunya adalah  berbisnis petrokimia.

“Industri yang menggunakan bahan bakar fosil memang tidak mudah untuk diganti, mungkin sampai generasi berikutnya. Namun kalau kita tetap mendorong penggunaan gas untuk listrik, transportasi, pembangkit, kemungkinan kompetisi bisa dihadapi pada saat itu,” tutur Menteri Jonan.

Sementara untuk pengembangan gas dalam negeri, terdapat beberapa proyek yang cukup menjanjikan seperti Blok Masela serta IDD. Pemerintah mendorong agar kedua blok tersebut dapat segera berproduksi.

Selain itu, Pemerintah juga telah meminta PT Pertamina agar mencari mitra untuk mengembangkan  Blok East Natuna D Alpha.

Konferensi dan Pameran International Gas Indonesia (IndoGAS) 2019 dilaksanakan pada 19-20 Februari 2019 di Jakarta, dengan tema ”Gas for Today and for A Sustainable Energy Future”.

INDOGAS 2019 diselenggarakan oleh Indonesian Gas Society (IGS) dan IEEC serta dihadiri oleh lebih dari 200 pelaku industri gas dari dalam dan luar negeri.

Didik Sasongko Widi selaku Chairman IGS & Organizing Committee IndoGAS 2019 menjelaskan, ”Seiring dengan terus meningkatnya permintaan kebutuhan energi, diperlukan strategi yang matang untuk memenuhi permintaan tersebut. Ada empat  faktor penting dalam perumusan strategi tersebut, di antaranya adalah investasi dalam sektor eksplorasi, diversifikasi sumber energi,  inovasi untuk keseimbangan kesediaan pasokan energi dan kebutuhannya dalam pengembangan energi terbarukan, dan pengembangan infrastruktur untuk distribusi gas ke seluruh kepulauan Indonesia.”

IndoGAS sebagai forum lintas fungsi Internasional turut menghadirkan Joo Myung Kang, President International Gas Union (IGU) untuk berbagi informasi kepada praktisi industri gas Indonesia dalam tema Global LNG outlook. IGU sebagai organisasi non-profit terkemuka di dunia untuk bidang gas, mendorong IGS untuk terus aktif mendorong gas untuk pengembangan ekonomi yang berkelanjutan. (TW)

Sumber: https://www.migas.esdm.go.id/post/read/menteri-jonan-buka-indogas-2019

Produksi Minyak Merosot, Sri Mulyani: Gas Jadi Tumpuan

Foto: Sri Mulyani hadir di gelaran IndoGAS 2019. CNBC Indonesia/Anastasia Arvirianty

 

 

Jakarta, CNBC Indonesia- Produksi minyak dalam negeri yang trennya cenderung merosot menjadi perhatian Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Dalam gelaran IndoGAS 2019, Bendahara Negara menyebutkan, meningkatkan produksi minyak dan juga gas bumi adalah sebuah mandatori, sebab permintaan akan migas akan terus meningkat ke depannya, dan migas memiliki peran signifikan untuk perekonomian negara.

 

“Jadi, Anda bisa bayangkan migas bisa menjadi tulang punggung kita, atau juga bisa memberikan sinyal bahwa Indonesia juga harus mulai berpikir untuk mengembangkan sumber daya non-migas sebagai energi alternatif untuk negeri,” tambahnya.

Adapun, menurutnya, peran gas alam sangat penting untuk mengembangkan energi alternatif. Ia menuturkan, pemerintah akan terus mendukung eksplorasi dan eksploitasi dalam menemukan lapangan-lapangan gas besar, seperti blok Masela, East Natuna, dan proyek IDD.

Dan untuk meningkatkan permintaan gas dari sisi domestik, Sri Mulyani menyebut, pemerintah akan menyediakan dan membangun infrastruktur gas (jargas) untuk meningkatkan distribusi, khususnya untuk industri, transportasi, dan rumah tangga.

“Permintaan gas di Indonesia sejujurnya cukup tersebar, sehingga infrastruktur gas ini akan menjadi investasi yang penting untuk kita. Permintaan gas domestik pasti akan terus meningkat kuat,” pungkasnya.