Oil market balance could begin to turn in July or August, FGE’s Fereidun Fesharaki Says

Video:  https://www.bloomberg.com/news/videos/2020-04-21/oil-market-balance-could-begin-to-turn-in-july-or-august-fge-s-fereidun-fesharaki-says-video

Harga Gas Anjlok, Produksi LNG Kilang Bontang akan Dikurangi

Rio Indrawan | Jumat, 17/04/2020

JAKARTA – Sisa kargo Liquefied Natural Gas (LNG) yang tidak terserap pada tahun ini mencapai 12 kargo yang berasal dari dua kilang LNG utama di Indonesia, yakni kilang Bontang di Kalimantan Timur dan Tangguh di Papua.

Arief Setiawan Handoko, Deputi Keuangan dan Monetisasi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), mengatakan kelebihan kargo LNG dari Kilang Bontang atau uncommitted sebanyak tujuh kargo. Sebagaian dari LNG tersebut sudah ditender atau dijual ke pasar spot.

Hanya saja penjualan melalui tender pada tahun ini tidak bisa terlalu diharapkan lantaran anjloknya harga gas, terutama LNG di pasar internasional. Untuk itu SKK Migas sedang melakukan kalkulasi untuk mempertimbangkan untuk tidak lagi memproduksi LNG dari Bontang.

“Uncommitted kargo Bontang ada tujuh kargo, tiga di antaranya sudah tender untuk dijual. Tapi karena tahun ini LNG sangat rendah harganya dibawah US$3, kami lagi review apakah lanjut. Istilahnya kami enggak produksi,” kata Arief dalam video conference, Kamis (17/4).

Sebanyak empat uncommitted kargo LNG lainnya tidak jadi diproduksikan karena adanya kegiatan perawatan atau maintenance di Kilang Bontang.

Sementara uncommitted kargo dari Kilang LNG Tangguh tahun ini sebanyak lima kargo. Sebagian di antaranya batal diserap  pembeli gas.

Menurut Arief, pembeli LNG tersebut mendeklarasikan force majeure sehingga tidak jadi menyerap sebanyak dua kargo LNG.

“Tiga kargo karena maintenance diundur, dua karena memang ada drop dari salah satu buyer (pembeli gas) karena declare force majeur,” ujar Arief.

Sepanjang kuartal I 2020  total penjualan LNG dari Bontang dan Tangguh sebanyak 54 kargo. Rinciannya sebanyak dari kilang Bontang sebanyak 24 kargo LNG dijual dan sebanyak 30 kargo LNG dijual dari hasil produksi kilang LNG Tangguh.

SKK Migas kata Arief masih menaruh harapan kondisi pasar LNG di dunia akan membaik pada semester kedua tahun ini sehingga target penjualan LNG bisa tercapai. Ini tentu akan berpengaruh terhadap target lifting gas.

“Kami harapkan akhir tahun 85 kargo (Bontang) dan 122 kargo (Tangguh). Mudah-mudahan dengan kondisi ini tercapai kalaupun meleset hanya sedikit,” kata Arief.(RI)

 

Sumber: https://www.dunia-energi.com/harga-gas-anjlok-produksi-lng-kilang-akan-dihentikan/

 

BP to supply LNG to China’s Foran Energy

Chinese gas distributor Foran Energy has signed an agreement to buy 600,000 t/yr of LNG from BP.

BP and Foran Energy are both shareholders in the CNOOC-operated 6.7mn t/yr Dapeng LNG terminal in south China’s Guangdong province, the Chinese firm said. BP holds a 30pc stake in the terminal. Foran Energy did not provide any additional details regarding the supply purchase agreement.

The deal was signed to “reduce the procurement cost” and “broaden the procurement methods” of gas sources, Foran Energy said.

BP’s LNG supply portfolio includes long-term equity projects and mid-term and spot purchases in Trinidad and Tobago, the US, Angola, Egypt, the UAE, Oman, Indonesia, Australia and Papua New Guinea, BP said.

Source: https://www.argusmedia.com/en/news/2097881-bp-to-supply-lng-to-chinas-foran-energy

Summary Report IndoPACIFIC LNG Summit 2020

IndoPACIFIC LNG Summit 2020, 3-4 March 2020, Bali

  • Gas demand will continue to grow largely in Asian economies and in particular in South Asia and Southeast Asia, including Indonesia, will increasingly dominate the market. With the current over supply in LNG market, the industry must collaborate to bring balance back to the supply and demand of LNG.
  • The industry needs to acknowledge that different buyers have different needs. As an industry, we need to understand what those individual needs are, and be flexible in offering solutions.
  • Suppliers must evolve new business models and accommodate buyers’ requirements to make the business sustainable.
  • To survive in a commodity LNG world, suppliers will have to stay abreast of new technology and commercial innovation in the digital revolution, including down-scaling to small scale LNG options.
  • Creating demand. There are a lot of potential new market to be developed in emerging Asian market such as LNG bunkering and small scale, which of course need development of gas infrastructures and conducive government policy.
  • Indonesian Gas Society (IGS) is honored to host the 2nd IndoPACIFIC LNG Summit to serve as a timely forum for the LNG industry in Indopacific region. As one of the main “engines of growth’ for LNG demand, the Indopacific region has a big stake in how the industry addresses the opportunities as well as challenges and dynamics of LNG market.

 

Read more:

Download Summary Report 

Indonesia Siap Menjadi Pemasok LNG Global

Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto, saat menjadi pembicara kunci dalam Indopacific LNG Summit Bali 2020.

 

INDONESIA sempat memiliki peran di pasar gas alam cair (LNG) global, sehingga menjadi salah satu eksportir LNG terbesar. Namun, seiring penurunan produksi gas dan kebijakan pemerintah untuk memprioritaskan pasokan gas di dalam negeri, kontribusi Indonesia di pasar LNG dunia mengalami penurunan.

Berdasarkan rencana umum energi nasional (RUEN), produksi gas di Indonesia diproyeksikan terus menurun akibat decline rate alami, yakni 20% per tahun. Sepanjang 2015-2019, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mampu mempertahankan produksi migas di atas target RUEN. Dalam hal ini, melalui optimalization work program untuk mencapai operational excellence.

 

Di antaranya, Filling The Gap (FTG), Production Enchancement Technology (PET), Management Work Through (MWT), hingga Optimisasi Planned Shutdown. Alhasil, produksi gas dapat dipertahankan pada level tinggi sepanjang 2019, yakni 7.254 MMSCFD dan lifting sebesar 5.923 MMSCFD.

 

Giant discovery gas di Blok Sakakemang pada 2019, serta penyelesaian revisi POD pengembangan Blok Masela, semakin menambah optimisme terhadap masa depan industri hulu migas di Indonesia. Dalam visi bersama hulu migas 2030 dengan target 1 juta BOPD, produksi gas diperkirakan mencapai 12.300 MMSCFD. Dengan begitu, kekhawatiran akan defisit gas pada masa menatang dapat ditepis.

“Selesainya proyek kilang Masela dan proyek utama hulu migas, serta penemuan lapangan migas baru lain, akan menjadikan Indonesia kembali menjadi salah satu produsen gas utama dunia. Hal ini mendukung peningkatan daya saing indsutri dalam negeri, dengan ketersediaan pasokan gas. Serta menjadikan Indonesia berpeluang kembali menjadi pemasok utama LNG dunia,” papar Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto, saat menjadi pembicara kunci dalam Indopacific LNG Summit Bali 2020, Selasa (3/3).

 

Saat ini, lanjut dia, SKK Migas memiliki empat strategi untuk meningkatkan produksi migas nasional. Rinciannya, mempertahankan tingkat produksi existing yang tinggi, transformasi sumber daya ke produksi, mempercepat chemical EOR dan eksplorasi untuk penemuan besar. SKK Migas mengidentifikasi 12 area yang berpotensi memiliki kandungan migas dalam jumlah besar. Itu tersebar di enam area di Indonesia bagian barat, empat area di Indonesia bagian timur dan dua area di laut dalam.

Dari total produksi gas pada 2019 sebesar 6.140 BBTU, penyaluran dalam bentuk LNG secara keseluruhan mencapai 2.025 BBTU. Adapun alokasi LNG untuk pasar domestik sebesar 508 BBTU dan untuk ekspor sebesar 1.417 BBTU.

Saat ini, kapasitas kilang LNG di Indonesia sebesar 16 MTPA, yang berasal dari LNG Tangguh sebesar 7,6 MTPA dan LNG Bontang sebesar 8,6 MTPA. Kapasitas kilang LNG akan bertambah menjadi 13,3 MTPA, jika proyek train 3 Tangguh dengan kapasitas 3,8 MTPA dan Abadi LNG (Masela Project) sebesar 9,5 MTPA selesai dibangun. Pasar ekspor utama LNG, yakni Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Thailand dan Taiwan, dipasok dari kilang LNG Badak dan LNG Tangguh.(OL-11)

 

Sumber: https://mediaindonesia.com/read/detail/294163-indonesia-siap-menjadi-pemasok-lng-global.html

Menteri ESDM Minta Pengusaha Genjot Infrastruktur Gas di RI

Foto: Menteri ESDM Arifin Tasrif (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta 29 Jan 2020, CNBC Indonesia- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif bertemu dengan sejumlah pengusaha gas di kantornya siang ini.

Pengusaha gas yang bergabung dalam Indonesia Gas Society (IGS) ini bergerak dari sektor hulu, tengah, dan hilir. Dipimpin oleh Didik Sasongko Widi, membahas soal kerja sama antara swasta dan pemerintah untuk memajukan industri gas dalam negeri.

Pertemuan juga membahas soal potensi-potensi gas Indonesia, yang nantinya akan dibedah lebih dalam di gelaran IndoPACIFIC LNG Summit awal Maret 2020.

 

Menteri Arifin sendiri juga menekankan kepada para pengusaha ini untuk membangun infrastruktur gas nasional yg terdiri dari terminal LNG dan pipa gas.

Foto: esdm dan pengusaha gas (Dok. ESDM)

Sebelumnya, Arifin Tasrif menegaskan Indonesia masih punya peluang besar mendongkrak lifting atau produksi siap jual minyak dan gas bumi (migas) dengan menggarap ladang baru serta mengembangkan Wilayah Kerja (WK) eksisting.

“Sekarang ini kita sedang mengupayakan supaya ada pengembangan sumber-sumber (migas) baru sehingga kita bisa menemukan migas. Kalau gasnya oke, kalau minyaknya butuh waktu,” kata Arifin.

Pemerintah sendiri menetapkan lifting migas pada APBN 2020 sebesar 1.946 Million of Barrels of Oil Equivalent Per Day (MBOEPD) dengan rincian 755 mbopd dari minyak dan 1.191 dari mboepd dari migas. Optimisme terhadap capaian target lifting migas terlihat dari 12 proyek migas yang diproyeksikan berjalan tahun 2020 ini.

 

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/news/20200129204850-4-133817/menteri-esdm-minta-pengusaha-genjot-infrastruktur-gas-di-ri