Indonesia Gas Society (IGS) courtesy visit ke Menteri ESDM

 

Rabu, 29 Jan 2020 – Indonesia Gas Society (IGS) melakukan courtesy visit ke Menteri ESDM Bapak Arifin Tasrif yang didampingi oleh Sekjen ESDM Bapak Ego Syahrial, Staf Ahli MESDM Bapak Prahoro dan Tenaga Ahli MESDM Bapak Nanang Untung.

Delegasi IGS yang terdiri dari perwakilan pengurus dan anggota baik dari sisi Hulu, Tengah dan Hilir yang dipimpin oleh Chairman IGS Bapak Didik Sasongko Widi.
Dalam kunjungan tersebut IGS menyampaikan visi nya untuk memfasilitasi hubungan kerjasama antara pemangku kepentingan dalam memajukan industri gas Indonesia. Menteri menyampaikan dukungan dan meminta peran aktif IGS dalam ikut mendorong penggunaan gas di Indonesia.

Chairman IGS juga menyampaikan rencana IndoPACIFIC LNG Summit dengan tema “Shaping the Future” yang akan diselenggarakan pada tgl 3-4 Maret 2020 sebagai salah satu kegiatan rutin IGS yang mengundang 36 pembicara termasuk Presiden International Gas Union dan Delegasi dari kawasan Asia Pasifik

Jokowi considers three solutions to lower industrial gas prices

 

Jakarta   /   Mon, January 6, 2020

President Joko “Jokowi” Widodo will look into three options to lower the stubbornly high industrial gas price in Indonesia, which has deterred industries from expanding in Indonesia amid a domestic economic slowdown.

The options are: introducing a fiscal incentive, creating a domestic market obligation (DMO) or undergoing an import simplification procedure to reduce gas prices for domestic industries, the President explained.

“This problem has been going on since 2016. I need a solution, and those three are the options,” he told reporters after a closed-door limited cabinet meeting on Monday in Jakarta.

Jokowi’s adminsitration is pushing industrial development forward to revive economic growth, which has slowed to its lowest rate in more than two years: 5.02 percent in the third quarter of 2019.

By “reducing or even eliminating” the government’s share of earnings from gas sales – about US$2.20 per 1 million British thermal units (mmbtu) – Jokowi expected industrial gas prices to fall as well.

The second solution being studied, he added, was for the government to impose a DMO policy for gas producers so that prices could be maintained. The government already imposes such a policy on coal miners, who have to sell a quarter of their production domestically at less than $70 per ton.

The third possible solution was to ease imports of gas. However, the President did not specify whether this would be achieved through fiscal or non-fiscal measures.

There were seven domestic industries heavily reliant on gas, Jokowi added. These were the electricity production, chemical, food, ceramic, steel, fertilizer and glass industries, which collectively consumed about 80 percent of Indonesia’s gas supply.

“I’ve asked my ministers to carefully calculate how to make gas prices more competitive. Look at the issues from the upstream, midstream to downstream sectors,” he said.

The President has also asked for an update on the implementation of Presidential Regulation No. 40/2016 on determining natural gas prices. He said he was looking out particularly for field problems with the implementation of the regulation by the seven gas-reliant industries.

 

Source: https://www.thejakartapost.com/news/2020/01/06/jokowi-considers-three-solutions-to-lower-industrial-gas-prices.html

IGU Council Meeting 2019

IGU Council Meeting

 

 

 

 

Summary Report 5th Anniversary

 

 

 

On behalf of the Indonesian Gas Society, I would like to thank you for coming and to welcome you all to our “Industrial Expertise Forum“.

We decided to present this forum as part of a series of events held to celebrate IGS 5th anniversary.

It is 5 years since the establishment of the Indonesian Gas Society in 2014 and we are growing from strength to strength.

The theme “Gas & Renewable Energy” Indonesia has pressing energy issues that needs to be addressed urgently in the future. Based on GDP growth assumption of 5.6% per year and population growth of 0.8% per year, the Indonesian energy demand is expected to grow 6.4% per year oral most 1.5 times in 2025 than what we are consuming now. In overall, Indonesia is currently exporting more than half of its energy production, mainly from gas and coal.

 

Read more download here

Tekan Laju Penurunan Alamiah Blok Mahakam, Pertamina Agresif Lakukan Pengeboran

2019-07-16 14:48:00

Pertamina melalui anak usaha PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) secara agresif melakukan pengeboran di Wilayah Kerja (WK) Mahakam, dari target tahun 2019 sebanyak 118 sumur pengembangan, kini telah terealisasi 52 sumur pada Juni 2019.

Direktur Hulu Pertamina, Dharmawan H Samsu menjelaskan sejak mengelola WK Mahakam, Pertamina menggenjot operasi untuk menahan laju penurunan alamiah produksi yang pada 2017 telah mencapai 57 persen. Angka tersebut saat ini berhasil ditekan Pertamina pada level 25 persen dan upaya terus dilakukan secara maksimal melalui pengeboran sesuai rencana.

“Kami terus melanjutkan pengeboran 118 sumur hingga akhir 2019 ini, sehingga diharapkan in-year decline rate bisa ditahan flat, sekaligus mulai mempersiapkan pengeboran sumur eksplorasi dalam di 2020,” kata Dharmawan.

Dharmawan juga mengatakan pada 2018, Pertamina berhasil memproduksi gas sekitar lima persen di atas prediksi operator sebelumnya. Bahkan, untuk 2019, Pertamina menargetkan produksi Mahakam lebih tinggi dari proposal operator sebelumnya.

Dharmawan melanjutkan “Target ini cukup menantang mengingat tingkat maturasi yang cukup tinggi dari zona produksi eksisting sehingga kontribusi produksi Mahakam saat ini datang dari kantung-kantung reservoir yang lebih kecil dengan jarak antarsumur lebih dekat’’.

Selain itu, menurut dia, value creation harus dilihat dari berbagai sisi, tidak hanya volume tapi juga efisiensi. Pada 2018, Pertamina berhasil menurunkan biaya cost recovery Blok Mahakam dari 1.271 juta dolar AS menjadi 973 juta dollar AS pada 2018, sehingga berimbas kepada laba Perusahaan.

“Pengeboran di area swamp juga lebih efisien yakni dari 11 hari menjadi hanya 6 hari, sehingga biayanya juga turun,” ujarnya. Dharmawan meyakini bahwa manajemen biaya juga menjadi salah satu kunci meningkatkan hasil, di samping dibutuhkan pula terobosan berupa eksplorasi baru.

“Pengalaman mengelola Blok Mahakam memberikan wawasan bahwa investasi pada masa transisi sangat penting,” tutupnya. Sebagai informasi, untuk menjaga tingkat kewajaran produksi yang telah memasuki periode penurunan alamiah sejak 2010 maka satu tahun sebelum alihkelola, Pertamina melakukan intervensi pendanaan untuk pengeboran di 15 sumur WK Mahakam yang diproduksikan di 2018 . Hal ini dilakukan karena berdasarkan hasil evaluasi, terjadi penurunan investasi sumur di tahun 2016 menjadi 44 sumur dan di 2017 menjadi 6 sumur.**

 

Sumber : https://www.pertamina.com/id/news-room/news-release/tekan-laju-penurunan-alamiah-blok-mahakam-pertamina-agresif-lakukan-pengeboran